Monday, September 27, 2010

Walikukun....Sejarah, Mitos dan Legenda-nya

Situs Rondo Kuning...di yakini oleh masyarakat Walikukun
terletak di area depan stasiun KA Walikukun.

Cerita mengenai Walikukun di lihat dari sisi Sejarah,Mitos dan Legendanya...tak lepas dari hal - hal yang bersifat mistik. Ada beberapa nama antara lain ; Widodaren, Rondo Ireng, Rondo Kuning, Kedung Prau dan Kedung Prawan....nama - nama tersebut tentunnya mempunyai makna dan sejarah yang melatar belakanginya.Menarik untuk kita simak......

Mbok Rondo Ireng, menurut cerita yang berkembang adalah istri seorang raja kecil yang melarikan diri karena hendak diperistri patih Galigajaya, saat suaminya bertugas keluar daerah. Dia memiliki tiga orang anak yang ikut serta dalam pelarian, yaitu: Kencana Wulan, Hariyanti, dan Gandana.
Kencana Wulan pada akhirnya mati karena perahunya terguling, sampai sekarang perahunya masih ada di bawah sebuah jembatan di desa Walikukun yang saat itu hendak melarikan diri karena patih Galigajaya berhasil menemukan dia yang sudah menikah dengan pak Kunti. Daerah itu saat ini disebut Kedung Perahu. Hariyanti yang masih gadis sudah mati terlebih dulu dengan menceburkan diri ke sungai yang saat ini dikenal dengan nama Kedung Perawan.


Patih Galigajaya pada akhirnya menguburkan jenasah Kencana Wulan di tempat yang tidak jauh dengan kuburan ibunya, Mbok Rondo Ireng. Karena dia memiliki penyakit kuning, karenanya Kencana Wulan dikenal dengan nama Mbok Rondo Kuning.
Sebagian masyakarat ada yang mengatakan bahwa Mbok Rondo Ireng masih berkerabat dekat Aryo Bangsal, anak raja Majapahit atau lebih dikenal dengan Joko Gudik, karena memiliki banyak gudik, di tubuhnya. Aryo Bangsal ini adalah calon menantu Ratu Puan yang kerajaannya ada di gunung Lir-Liran, salah satu anak gunung Lawu, yang sampai saat ini, reruntuhan kerajaannya masih dapat ditemukan di gunung Lir-Liran.
Simbol-simbol dari kepercayaan bahwa Mbok Rondo Ireng adalah penjaga desa Walikukun ini nampak dari representasi perayaan dan situs-situs yang masih terjaga. Seperti pagar suatu tempat yang diyakini sebagai tumbuhnya pisang emas pupus cinde. Arca Mbok Rondo Kuning dan Mbok Rondo Ireng. Karena dianggap daerah yang banyak didatangi oleh putri dan ratu yang cantik inilah, Walikukun juga dikenal dengan nama Widodaren dari kata widodadri, bidadari.. Dalam kepercayaan Hinduisme selain percaya kepada dewa, masyarakat Jawa juga percaya pada dewa dan kepada widadari (bidadari) yang berasal dari Hinduisme. Sangat mungkin ini juga terkait dengan hal ini. Meskipun saat ini, tepatnya sejak tahun 2007, Widodaren menjadi nama kecamatan dan Walikukun menjadi salah satu desa di dalamnya
Rumah Mbok Rondo Ireng adalah sebuah rumah yang dinding-dindingnya berasal dari gedek (anyaman bambu) yang apabila hancur oleh usia akan diperbarui dengan gedek yang lain. Dari dalam rumah itu tumbuh pohon beringin menembus atap rumah yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya sang Mbok. Selain pohon beringin tersebut, di dala rumah juga ada arca si Mbok yang entah berasal dari tahun berapa.
Kalau melihat rekam sejarah, dimana Ngawi dianggap sebagai daerah Swatantra dan Naditira pradesa, pada jaman pemerintahan raja Hayam Wuruk (Majapahit) tepatnya tanggal 7 Juli 1358 Masehi, (tersebut dalam Prasati Canggu yang berangka Tahun Saka 1280). Tradisi yang berjalan setelahnya nampak sangat dipengaruhi oleh Hindu Siwa.
Pernah diceritakan seorang tentara yang berperang melawan Belanda suatu hari menebas arca Mbok Rondo Kuning sampai kepalanya lepas, dua hari setelah itu sang tentara meninggal tertembak di lehernya tak jauh dari keberadaan rumah si Mbok Rondo Kuning. Saat ini nama tentara tersebut dijadikan nama jalan di seberang rumah Mbok Rondo Kuning, jalan Sukatminaris.


Sampai saat ini, di rumah Mbok Rondo Ireng selalu diadakan perayaan atau ngalap berkah. Perayaan ini diadakah setiap tanggal 1 di bulan Sura. Mereka yakin, dengan menyediakan buceng kambing (normalnya ayam) akan membuat hati si Mbok merasa senang dan tetap menjaga serta melindungi desa dari seluruh bencana.
Dalam perayaan itu, akan digelar wayang tengul. Perayaan dimulai pagi hari dan selesai sore hari. Dipimpin oleh seorang dukun perempuan yang berdandan dengan menggunakan kebaya lengkap dengan sanggulnya. Dukun ini adalah juru kunci dari rumah Mbok Rondo Ireng. Apabila dia meninggal, salah seorang anak perempuannya akan menggantikannya sebagai juru kunci dan sekaligus menjadi pemimpin setiap ritual yang dilaksanakan di pepunden tersebut.
Segala sesaji disiapkan dengan cara yang terlampau hati-hati. Dari segala jenis kembang, makanan dan alat-alat lain. Meskipun menurut cerita, Mbok Rondo Ireng tidak lebih galak dibandingkan anaknya, Mbok Rondo Kuning, akan tetapi rasa hormat membuat mereka lebih banyak terdiam saat acara berlangsung.
Sepulang dari ngalap berkah, orang-orang akan merasa tenang karena telah menunaikan satu perayaan untuk menyenangkan hati Mbok Rondo Ireng. Menjamasi setiap pusaka milik mereka dan merencanakan niat-niat dan hajat di setahun ke depan.
Meskipun ngalap berkah sudah diadakan setiap tahunnya, masyarakat di Walikukun musti selalu caos dhahar (memberi makan) ke rumah Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning saat mereka memiliki hajat. Seperti menikahkan seorang anak, khitan dan hajat-hajat lain. Karenanya di tahun-tahun terakhir masih ada ditemukan anak-anak sekolah yang mengantarkan sesaji ke rumah Mbok Rondo Kuning dan Mbok Rondo Ireng sebelum ujian nasional diadakan.
Rasa tentram yang mereka dapatkan membuat diri merasa yakin dan percaya akan dimudahkan dalam melaksanakan hajat dan kemauannya. Semangat dan rasa percaya diri membuat orang menjadi lebih santai dalam menghadapi sesuatu karena merasa ada “the other” yang menemaninya untuk menjadi pemenang.
Ngalap berkah dan simbol-simbol serta sarana yang mengiringinya memberikan gambaran tentang cara pemaduan antara kepercayaan masyarakat di Walikukun yang animis dan Hindu Siwa yang membentuk konsepsi pokok sebuah desa. Jika seseorang ingin merayakan atau mengeramatkan peristiwa apapun yang berhubungan dengan upacara perseorangan atau jika ia hendak memperoleh berkah dan perlindungan, maka perayaan harus diadakan.
Sebagian orang bisa saja berpikir di sinilah peran Islam masuk dalam ambivalensi masyarakat memandang Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning. Peng”jin”an sang Mbok pada sesuatu yang bisa menjadi antagonis. Bagaimana mungkin seorang pelindung desa bisa menjadi perusak dan pendatang bencana? Sebab jin baik akan selalu baik dan jin jahat akan selalu jahat. Tidak bisa jin yang sama melakukan dua hal yang bertolak belakang. Saya cenderung mengira bahwa ini justru internalisasi dari Hindu Siwa pada masyarakat di Walikukun.
Siwa adalah dewa cinta kasih, dia adalah dewa yang selalu nampak sebagai dewa yang memancarkan kaih sayang bagi manusia yang hidup di jalan yang penuh amalan dan kasih pada sesama. Sebaliknya, bagi manusia yang hidupnya dipenuhi dengan dosa dan mengganggu manusia lain, dewa Siwa akan nampak menyeramkan dan selalu siap menghancurkan apapun yang ada di hadapannya. Dalam diri Dewa Siwa terdapat sakti dari Dewi Uma yang cantik dan lemah lembut, serta Dewi Durgha yang merupakan dewi kematian dengan muka yang menyeramkan.
Untuk itulah demi menjaga kasih sayang sang Mbok terhadap desa, masyarakat musti menjaga perilaku mereka dalam bermasyarakat. Membantu yang kekurangan, menolong yang membutuhkan dan membagi rezeki yang ada untuk sesama.
Kenduri dan mempercayakan banyak hal pada dukun atau juri kunci merupakan cara untuk berhubungan langsung dengan si Mbok. Akan tetapi merayu si Mbok agar tetap menjaga desa dan khususnya subyek personal adalah dengan melalui selametan dan caos dhahar.
Bagi sang dukun sendiri, yang mana juga seorang juru kunci di rumah Mbok Rondo Ireng memiliki keyakinan, bahwa untuk mencapai suatu kemenangan atas sebuah kebahagian dari penjagaan sang Mbok, musti tirakat dan penuh pemgorbanan.
Ia harus berpuasa selama sejumlah hari tertentu, dan berpantangan memakan beberapa jenis makanan. Seperti misalnya pisang raja dan lain sebagainya. Maka cara pengrobanan yang lain adalah dengan bertapa. Khususnya saat akan memimpin upacara besar setiap bulan Sura.
***Mbok Rondo Kuning
Masyarakat di Walikukun di tahun-tahun lalu, sebelum dakwah-dakwah Islam masuk dengan kuat begitu percaya kepada kemampuan dukun, meski sampai saat ini masih banyak juga yang mempercayainya.


Perkataan dukun sering menjadi panduan untuk mereka menghentikan atau melanjutkan hajat yang ingin diadakan. Ada sebuah kisah seorang, belum ada setahun perkawinan, sang perempuan kehilangan suaminya karena kecelakaan. Kisah itu berulang sampai empat kali perkawinananya. Sampai pada akhirnya sang dukun, juru kunci rumah Mbok Rondo Ireng menyucikan dia dengan mantra dan sesaji, berhasilah si perempuan memiliki seorang suami sampai saat ini.
Di Walikukun terdapat satu group ketoprak yang setiap akhir Minggu mementaskan sebuah cerita di gedung pertunjukkan sebelum dihancurkan. Kelompok ini selalu menampilkan banyak kisah, tapi tidak menampilkan cerita tentang Mbok Rondo Kuning di sekitar Walikukun. Menurut cerita yang berkembang, selalu selepas mementaskan cerita Mbok Rondo Kuning yang penuh derita itu, salah seorang pemainnya meninggal hanya dalam hitungan hari saja. Karenanya gedung pertunjukan tidak digunakan lagi, selain semakin jauhnya masyarakat dengan tradisi ketoprak terkait juga masalah 1965 yang melanda hampir seluruh daerah di Ngawi.
Sampai saat ini, setidak-nya untuk beberapa masyarakat ,sesaji untuk mereka yang hendak menikahkah anaknya masih terus dilakukan, terlepas keluarga tersebut menganut agama Kristen, Katolik, maupun Islam. Sebab kalau tidak, saat acara dilakukan bisa jadi datang rintangan, atau bahkan saat kelak sang pengantin menjalani rumah tangga mereka.
Upacara pokok dalam agama Jawa tradisional ialah slametan, dimana di dalamnya hampir selalu ada kenduri. Yang dalam kajian Geerzt dianggap sebagai hal yang paling umum di lakukan oleh para abangan. Melambangkan persatuan mistik dan sosial dari orang-orang yang ikut serta dalam slametan tersebut.
Slametan dan simbol-simbol inilah memberikan gambaran yang jelas tentang cara pemaduan antara kepercayaan abangan yang animis dan Buddhis-Hindu dengan unsur Islam serta membentuk nilai pokok masyarakat pedesaan.
Kenyataan yang menarik, slametan yang dilakukan oleh orang Jawa bukanlah cara atau ritual untuk minta kesenangan atau tambahan harta kekayaa, akan tetapi bertujuan untuk mendapatkan keselamatan dari sakit dan duka. Slametan semacam ini bagi para abangan melambangkan keharusan kerja sama dan ikatan sosial.
Clifford Geertz dalam The Religion of Java meyakini bahwa perkembangan ajaran Islam di Indonesia diwarnai oleh ajaran Hindu, Budha, dan bahkan animisme, sebagai ajaran-ajaran yang telah lama berkembang di Indonesia sebelum Islam. Sehingga terlihat praktik mistik Budha yang diberi nama Arab, raja Hindu berubah namanya menjadi Sultan, sedangkan rakyat kebanyakan masih mempraktikkan ajaran animisme.
Sebab yang mampu menyerap ajaran Islam asli hanyalah sekelompok kecil yakni kalangan santri. Sedang sebagian besar rakyat Indonesia masih dapat dikatakan belum mempraktikkan ajaran Islam sepenuhnya. Bukankah proses sinkretisasi yang paling kental adalah terjadi di Jawa oleh karena sebagian besar masyarakatnya memiliki prinsip bahwa semua agama adalah sama.
Walikukun hanyalah sebuah daerah kecil yang hampir tidak berbeda dengan daerah lain yang masih memiliki dna menjaga aliran-aliran yang lebih menonjolkan aspek-aspek animisme-dinamisme. Pada dasarnya gerakan mistik adalah dan seharusnya selalu independen (bebas).
“Pada umumnya seorang ahli mistik terkenal sebagai orang yang tidak mau tunduk kepada peraturan keduniawian. Dia percaya bahwa dengan jalan mistiknya, dia dapat berhubungan langsung dengan Tuhan dan dapat pula menerima petunjuk-petunjuk langsung dari Tuhan. Jika di dalam suatu daerah terdapat banyak penganut aliran-aliran mistik, khususnya yang telah berubah menjadi magi, maka besar sekali kemungkinannya bahwa para penganut ini tidak mau tunduk pada peraturan-peraturan pemerintah.
Di dalam sejarah kerap kali terjadi pengejaran-pengejaran terhadap ahli mistik, khususnya di luar negeri. Di Indonesia hal ini belum terdapat, meskipun telah terjadi gejala-gejala yang membahayakan. Yaitu misalnya pembunuhan (dengan cara pembedahan) seseorang oleh keluarganya sendiri, karena merasa dapat perintah gaib. Dalam pada itu pemerintah telah pula mengambil langkah-langkah penertiban. Di sini kita lihat ekses-ekses akibat-akibat yang negatif daripada mistik yang telah berubah sifatnya menjadi magi.”( Sosrodihardjo, 1972)
Di Masa kini masjid-masjid makin banyak didirikan, gereja Kristen dan Katolik hampir selalu ramai di hari Sabtu dan Minggu. Namun demikian setiap tahun masyarakat yang percaya pada kekuatan Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning masih terus mengadakan ngalap berkah. Biaya mementaskan wayang tengul dan membeli perelngkapan sesaji adalah uang hasil iuran hampir seluruh masyarakat setempat. Bagi yang kemudian lebih teguh belajar Islam dan Kristen Katolik, mereka tidak datang ke acara selamatan, kalaupun datang hanya untuk menyaksikan pementasan wayangnya saja. Atau bisa saja diam-diam di dalam hati mereka turut berdoa dan meminta perlindungan dari sang Mbok.
Berbeda dengan kyai dan pendeta serta pastur di sana yang melarang umatnya datang ke acara itu dan meninggalkan seluruh tradisi yang mengakar jauh sebelum mereka datang, dukun sakti pemimpin ritual itu tidak pernah melarang masyarakatnya untuk memeluk dan meyakini Tuhan-tuhan baru yang datang di masa kini. Dengan terus terang sekaligus diam-diam, umat beragama itu masih akan caos dhahar ke rumah Mbok Rondo Ireng dan Mbok Rondo Kuning sebelum mereka menikahkan anak-anak mereka demi keselamatan selama hajat berlangsung dan seterusnya untuk kebahagian dan kemuliaan hidup sang pengantin.
Kini dengan semakin bertumbuhnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat Walikukun berkat kuatnya arus informasi baik melalui media TV, Surat Kabar bahkan internet....serta semakin kuatnya pengaruh agama dalam masyarakat.....pengaruh budaya yang berbau mistik, animisme  dan dinamisme semakin luntur.Ini tentunya sebuah perkembangan paradigma yang sangat positif......

7 comments:

  1. salam kenal, saya suka postingan ini
    saya juga lahir di walikukun dan sempat menghabiskan sebagian masa kecil saya di sana

    ReplyDelete
  2. assalamualaikum wr.wb
    saya suka sekali membaca posting ini,sedikit banyak saya jadi tahu sisi sejarah dan mitos desa walikukun tempat saya dilahirkan dahulu.walaupun sekarang saya sedang merantau tapi saya amat merindukan desa walikukun.
    wassalamualaikum wr.wb

    ReplyDelete
  3. Saya itu mulai tk idata 2 yg ada di sdn gendingan 1 ampe lulus sdn gendingan 1 tinggal di walikukun tp belum banyak tau tentang cerita sejarah walikukun . yang saya rasakan kangen rindu yg luar biasa dr tmpat tersebut krna saya skg tinggal dikalimantan timur. saya senang skali bs menemukan blog ini. semangat terus menulis tgg walikukun ya Pak..saya sanat bahagia membacanya.saya ga tau lagi seperti apa wajah walikukun.tp saya yakin suatu saat saya pasti akan bs kesana lagi.Amin...

    ReplyDelete
  4. Saya asli dari walikukun
    Tapi baru tau ceritanya :D
    hahahahaha

    Bahasa jawa saja cuma bisa yang ngoko
    Soalnya ayah bukan orang asli jawa
    jadi bahasa sehari2 Indonesia
    hehee

    Trimakasih atas postingannya
    Ini sangat membantu :3

    ReplyDelete
  5. Walikukun atau sering juga Widodaren sebuah tempat kecil bahkan tidak menonjol sebagai obyek berita, ulasan dan destinasi. Namun dengan melakukan flashback melalui penelusuran riwayat dan hikayatnya, seperti yg didutilis bung Deddy W ini, Walikukun ternyata bukan sekedar nama desa atau nama tempat yg notabene kecil, sejatinya ia banyak menyimpan kekayaan perpektif baik sejarah, sosial-budaya dan perilaku adab masyarakatnya. Tanpa banyak yg mengetahui, tokoh sekaliber KRT Radjiman ternyata tidak bisa dipisahkan dari desa ini. Menarik untuk diteliti lebih jauh, mengapa beliau tinggal di sana? Apakah beliau mempunyai keluarga di sana? Mengapa akhirnya beliau memiliki tanah dan rumah di sana? Bagaimana beliau mengatur perjalanan dari Walikukun ke Jakarta (Jayakarta, Batavia masa itu) dan sebaliknya di saat beliau menjabat kedudukan strategis di BPUPKI/PPKI guna mempersiapkan kemerdekaan Indonesia? Misteri, mitos dan cerita dari mulut ke mulut ttg Walikukun dengan berbagai perpektif ini sayang untuk tidak diikuti dan ditelusuri

    ReplyDelete
  6. Aku lahir asli Walikukun, sungguh sebuah desa yg tak terlupakan, masih sangat jelas dalam ingatanku, di kala aku masih kecil, sering nonton wayang tengul ( sejenis wayang golek) di area lokasi keramat mbok Rondo Irene, ada pohon beringin yg besar, entah sekarang apakah masih ada atau tidak, kalo tidak salah wayangan diselenggarakan 1 tahun sekali, pada awal bulan syura (lupa), memang benar aku juga pernah dengar mitos ttg mbok Rondo Kuning, yg letaknya dekat stasiun KA..., kali Kedung perawan dan kali Kedung perahu, dimana waktu kecil aku belajar berenang, mencari ikan bersama teman2...sekolahku SMP Kristen, total muridnya hanya 60 org, sekolah dng kaki telanjang tanpa sepatu bersama-sama teman sedesa, tak ada listrik sampai thn 1979 baru kebagian listrik masuk desa, setiap malam belajar dng lampu petromak, tidur dng lampu teplok(Tempel),.. Kenangan indah yg tidak terlupakan... Desa ku tercinta.. Walikukun...Terima kasih mas Dedy, artikelnya........... Ir. Heru Kumarga MM. - jakarta

    ReplyDelete
  7. Aku lahir asli Walikukun, sungguh sebuah desa yg tak terlupakan, masih sangat jelas dalam ingatanku, di kala aku masih kecil, sering nonton wayang tengul ( sejenis wayang golek) di area lokasi keramat mbok Rondo Irene, ada pohon beringin yg besar, entah sekarang apakah masih ada atau tidak, kalo tidak salah wayangan diselenggarakan 1 tahun sekali, pada awal bulan syura (lupa), memang benar aku juga pernah dengar mitos ttg mbok Rondo Kuning, yg letaknya dekat stasiun KA..., kali Kedung perawan dan kali Kedung perahu, dimana waktu kecil aku belajar berenang, mencari ikan bersama teman2...sekolahku SMP Kristen, total muridnya hanya 60 org, sekolah dng kaki telanjang tanpa sepatu bersama-sama teman sedesa, tak ada listrik sampai thn 1979 baru kebagian listrik masuk desa, setiap malam belajar dng lampu petromak, tidur dng lampu teplok(Tempel),.. Kenangan indah yg tidak terlupakan... Desa ku tercinta.. Walikukun...Terima kasih mas Dedy, artikelnya........... Ir. Heru Kumarga MM. - jakarta

    ReplyDelete